Kamis, 26 Juni 2014

Tradisi Melayu Permainan Rakyat Adu Buah Para



MAKALAH TRADISI MELAYU


PERMAINAN RAKYAT ADU BUAH PARA








DOSEN PEMBIMBING: TETY KURMALASARI

DISUSUN OLEH :

NAMA : SRI TULARSIH
NIM : 130388201032
KELAS : F1


FAKULTAS KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TAHUN AJARAN 2013 — 2014




PENDAHULUAN
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Tradisi Melayu, maka saya melakukan penelitian dan observasi terhadap permainan rakyat Melayu Riau, Adu Buah Para. Pada hari minggu, 11 Juni 2014 didaerah Kabupaten Karimun, Kecamatan Meral, Kampung Wonosari dengan seorang bapak bernama Muhammad Nasikhin. Ini lah hasil rangkuman wawancara saya tentang permainan rakyat, Adu Buah Para.

PERMAINAN RAKYAT
A.    ABSTRAK
Bahan yang akan saya bahas dalam blog saya kali ini adalah tentang permainan rakyat tradisional. Permainan rakyat adalah permainan yang popular dikalangan masyarakat pada zaman dahulu, dimana pada zaman dahulu tidak ada gadget canggih seperti sekarang ini yang telah menggeser kedudukan permainan tradisional, dan dalam pembahasan kali ini saya akan mengupas secara rinci tentang permainan tradisional masyarakat melayu, adu buah para atau biji karet yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat kelas menengah dan kelas bawah diwilayah Kepri yang pada umumnya bekerja sebagai petani karet.
Sejarah adanya permainan ini belum diketahui secara pasti, hanya saja permainan ini tercipta karena adanya kebosanan pada kehidupan yang monoton, sehingga masyarakat menambahkan selingan-selingan dalam kehidupan mereka. Ditambah lagi permainan ini tidak membutuhkan biaya dan cukup hanya dengan memanfaatkan biji-biji karet yang jatuh dibawah pohon karet itu.
Diwilayah Kepri, hutan karet cukup tersebar luas, seperti didaerah Tanjung Pinang, Kabupaten Karimun, Kota Dumai, Pekan Baru, dan dibeberapa bagian besar wilayah Sumatra lainnya, sehingga permainan ini masih dapat ditemukan sampai sekarang ditengah maraknya aplikasi permainan yang ada digadget-gadget keren. Seharusnya permainan ini terus dilestarikan oleh anak bangsa, karena permainan ini adalah warisan budaya bangsa termahal yang tidak akan pernah ada lagi dimasa depan. Selain tidak membutuhkan biaya, permainan ini juga melatih anak bangsa untuk mencintai budayanya sendiri.



Gambar pohon karet (Dokumentasi 11 Juni 2014)


B.     ADU BUAH PARA (BIJI KARET)
Adu buah para adalah permainan rakyat dari daerah pedalaman Riau yang rata-rata penduduknya bekerja sebagai petani karet atau petani ojol. Pohon karet sangat banyak didaerah Riau Kepri, sehingga anak buah karet banyak dimanfaatkan oleh anak-anak petani itu sebagai bahan permainan, adu buah para. Adu buah para adalah permainan tradisional khas Riau, yang dimainkan dengan cara mengadu 2(dua) buah biji para. Cara bermainnya cukup mudah. Pertama, setiap pemain harus memiliki buah para yang akan dipertandingkan. Kemudian, para pemain harus sud atau suit terlebih dahulu untuk menentukan siapa pemain yang akan menumbuk terlebih dahulu. Setelah didapatkan pemenangnya, maka tahap selanjutnya adalah dengan mengadu buah para itu. Setiap pemain yang kalah sud harus meletakkan biji paranya dibawah biji para pemain yang menang. Kemudian pemain yang menang akan menumbuk kedua biji para itu dengan tangannya, hingga salah satu diantara keduanya ada yang pecah.
Setiap pemain hanya diberikan 1(satu) kali kesempatan untuk menumbuk buah para, hingga salah satunya pecah. Jadi setiap pemain harus menumbuk buah para itu dengan sekuat tenaga jika dia ingin memenangkan pertandingan ini. Aturan permainannya juga cukup mudah, siapa yang bertahan dan tidak pecah maka dia yang menang, dan siapa yang pecah maka dialah yang kalah.






A.    GAMBAR BUAH PARA DAN ADU BUAH PARA
       
                                           Gambar buah para (Dokumentasi 22 Juni 2014)





                            Gambar orang bermain adu buah para (Dokumentasi 22 Juni 2014)



PENUTUP
A.    NARASUMBER WAWANCARA DARI PERMAINAN ADU BUAH PARA:


            






  (Dokumentasi 11 Juni 2014) 
 
Nama Narasumber : Muhammad Nasikin
Lokasi                    : Kabupaten Karimun,    Kec. Meral, Wonosari
Pekerjaan               : Petani Ojol



Catatan: Wawancara dilakukan pada tanggal 11 Juni 2014
Dan dokumentasi juga dilakukan tanggal tersebut
Saat saya sedang pulang kampung ke Karimun.